Selasa, 11 November 2014

Paper Perorganisasian

TIARA IRANASARI
17512371
PSIKOLOGI MANAJEMEN

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat limpahan Rahmat dan Karunia-Nya sehingga penulis dapat menyusun paper ini dengan baik dan tepat waktu. Dalam makalah ini saya membahas mengenai Perorganisasian.
Adapun maksud dan tujuan paper ini antara lain untuk memenuhi tuntutan kebutuhan pembelajaran mengenai Psikologi Manajemen, untuk lebih mengembangkan ilmu pengetahuan dan menambah informasi tentang Perorganisasian. Akhir kata semoga paper ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca.

Depok, 11 November 2014
Penulis













DAFTAR ISI
Kata Pengantar.................................................................................................
Daftar Isi..........................................................................................................
Bab I.................................................................................................................
Pendahuluan.....................................................................................................
A.    Latar Belakang......................................................................................
B.     Rumusan Masalah..................................................................................
C.     Tujuan....................................................................................................
Bab II.................................................................................................................
Pembahasan........................................................................................................
A.    Perorganisasian........................................................................................
B.     Struktur Organisasi.................................................................................
C.     Ciri-Ciri Teknis Organisasi .....................................................................
D.    Faktor-Faktor  Perancangan Struktur Organisasi.......................................
E.     Unsur-Unsur Organisasi ..........................................................................
BAB III
Penutup..................................................................................................................
A.    Kesimpulan.................................................................................................
Daftar Pustaka.........................................................................................................






BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Perorganisasian merupakan proses penyusunan sturktur organisasi yang sesuai dengan tujuan organisasi,sumber daya-sumber daya yang dimilikinya,dan lingkungan yang melingkupinya. Dalam organisasi terdapat aspek utama proses penyusunan organisasi adalah patementalisasi dan pembagian kerja. Bagian organisasi mengelompokkan kegiatan-kegiatannya,dimana setiap pengelompokkan diikuti dengan penugasan seorang manajer yang diberi wewenang untuk mengawasi anggota-anggota kelompok, hubungan antara fungsi-fungsi dengan jabatan,tugas-tugas dan para karyawan.


B. Rumusan Masalah
1.      Pengertian Perorganisasian
2.      Unsur-unsur struktur organisasi
3.      Faktor-faktor organisasi
C. Tujuan
1.      Untuk mengetahui tentang perorganisasian
2.      Untuk memahami unsur-unsur perorganisasian
3.      Untuk memahami faktor-faktor perorganisasian






BAB II
PEMBAHASAN
A. Perorganisasian
Perorganisasian adalah merupakan fungsi kedua dalam Manajemen dan pengorganisasian didefinisikan sebagai proses kegiatan penyusunan struktur organisasi sesuai dengan tujuan-tujuan, sumber-sumber, dan lingkungannya. Dengan demikian hasil pengorganisasian adalah struktur organisasi. 
B. Pengertian Struktur Organisasi
Struktur organisasi adalah susunan komponen-komponen (unit-unit kerja) dalam organisasi. Struktur organisasi menunjukkan adanya pembagian kerja dan menunjukkan bagaimana fungsi-fungsi atau kegiatan-kegiatan yang berbeda-beda tersebut diintegrasikan (koordinasi). Selain daripada itu struktur organisasi juga menunjukkan spesialisasi-spesialisasi pekerjaan, saluran perintah dan penyampaian laporan. Struktur Organisasi dapat didefinisikan sebagai mekanisme-mekanisme formal organisasi diolah. Struktur organisasi terdiri atas unsur  spesialisasi kerja, standarisasi, koordinasi, sentralisasi atau desentralisasi dalam pembuatan keputusan dan ukuran satuan kerja.
C. Ciri-ciri teknis organisasi yang tidak baik :
·         Pengambilan keputusan seringkali terlambat ataupun seringkali kurang baik.
·         Organisasi tidak mampu bereaksi dengan baik terhadap perubahan kondisi lingkungan.
·         Dalam organisasi seringkali terjadi pertentangan.
D. Faktor-faktor yang menentukan perancangan struktur organisasi yaitu :
1.      Strategi organisasi pencapaian tujuan.
2.      Perbedaan teknologi yang digunakan untuk memproduksi output akan membedakan bentuk struktur organisasi.
3.      Kemampuan dan cara berfikir para anggota serta kebutuhan mereka juga lingkungan sekitarnya perlu dipertimbangkan dalam penyusunan struktur perusahaan.
4.      Besarnya organisasi dan satuan kerjanya mempengaruhi struktur organisasi.
E. Unsur-unsur struktur organisasi terdiri dari :
1.      Spesialisasi kegiatan
2.      Koordinasi kegiatan
3.      Standarisasi kegiatan
4.      Sentralisasi dan desentralisasi pembuatan keputusan
5.      Ukuran satuan kerja
Tujuan organisasi adalah untuk mencapai tujuan dimana individu-individu tidak dapat mencapainya sendiri. Tiang dasar perorganisasian adalah prinsip pembagian kerja yang memungkinkan sinergi terjadi.
Bagan organisasi untuk menunjukkan struktur organisasi. Memperlihatkan susunan fungsi-fungsi,departemen-departemen,atau posisi-posisi organisasi diantaranya.

Aspek Utama Bagan Organisasi :
1.      Pembagian kerja
2.      Manajer dan bawahan atau rantai perintah
3.      Tipe-tipe pekerjaan yang dilaksanakan
4.      Pengelompokkan segmen-segmen pekerjaan
5.      Tingkat manajemen.
Dalam organisasi terdapat keuntungan dan kerugiannya , diantaranya :
·         Keuntungan : Bahwa karyawan dan lain-lain diberi gambaran bagaimana organisasi      disusun.
·         Kerugian       :  Bahwa masih banyak hal-hal yang tidak jelas atau tidak ditunjukkan.





BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pengorganisasian adalah merupakan fungsi kedua dalam Manajemen dan pengorganisasian didefinisikan sebagai proses kegiatan penyusunan struktur organisasi sesuai dengan tujuan-tujuan, sumber-sumber, dan lingkungannya. Dengan demikian hasil pengorganisasian adalah struktur organisasi. 
Struktur organisasi adalah susunan komponen-komponen (unit-unit kerja) dalam organisasi. Struktur organisasi menunjukkan adanya pembagian kerja dan menunjukkan bagaimana fungsi-fungsi atau kegiatan-kegiatan yang berbeda-beda tersebut diintegrasikan (koordinasi).










DAFTAR PUSTAKA


Minggu, 26 Oktober 2014

Review Jurnal Psikologi Manajemen

Nama : Tiara Iranasari

Kelas : 3Pa08

NPM : 17512371

Psikologi Manajemen (SOFTSKILL)

UNVERSITAS GUNADARMA


Psikologi manajemen adalah mengatur dan merencanakan sumber daya pada organisasi untuk mencapai tujuan. Dalam psikologi manajemen adanya :
  • Kepemimpinan yaitu proses mempengaruhi atau memberi contoh
  • Perencanaan yaitu awal utnuk menjalankan operasi 
  • Tujuan : Pelaksanaan menjadi efektif, melakukan koreksi, mengindentifikasi hambatan, dan mengontrol. 
Saya akan mereview jurnal yang berjudul " Organizational Citizenship Behavior (OCB) Dan Pengaruhnya Terhadap Keinginan Keluar dan Kepuasan Kerja Karyawan


1. Latar Belakang dan Tujuan Penelitian 

     Organizational citizenship behavior (OCB) merupakan suatu perilaku sukarela yang tampak dan dapat diamati. OCB merupakan suatu perilaku. Oleh karena itu, sebenarnya OCB didasari oleh suatu motif/nilai yang dominan. Kesukarelaan dalam bentuk perilaku belum tentu mencerminkan kerelaan yang sebenarnya. Memang untuk mengetahui nilai-nilai diri karyawan tidak selalu mudah. Oleh karena itu, secara pragmatis praktek manajemen dalam organisasi sering berorientasi pada apa yang dapat diamati yaitu perilaku. Pembentukan perilaku pun sering didasarkan pada reward dan punishment yang bersifat eksternal. Sifat dari OCB adalah pragmatis sehingga dapat diaplikasikan pada manajemen organisasi, khususnya yang berkaitan dengan sumber daya manusia. Model OCB telah banyak digunakan dalam pengoperasian resisten untuk teori perubahan, universal keadilan prosedural, personality, dan ethnicity dengan penghormatan terhadap kepuasan dan turnover dalam studi organisasional yang lain. Kepuasan kerja dapat terlihat dari berbagai ciri karyawan yang dapat diamati dari sikap, perilaku, cara pandang, dan situasi di tempat kerja. Kepuasan kerja dapat terlihat dengan adanya penurunan produktifitas, pemogokan,ketidakhadiran, dan pergantian karyawan. Gejala lain yang mungkin ditimbulkan seorang karyawan adalah rendahnya prestasi kerja, kurang disiplin, rendahnya hasil yang diperoleh dari kinerja. 

     Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui apakah organization citizenship behaviour (OCB) tersebut berpengaruh terhadap keinginan keluar secara negatif dan kepuasan kerja secara positif pada karyawan dan untuk dapat membuktikkan apakah OCB memiliki hubungan dan pengaruh terhadap keinginan keluar dan kepuasan kerja.

2. Metode

a. Pemilihan Sampel dan Pengumpulan Data

    Sampel adalah para anggota kepolisian di lingkungan resort “X”. Penelitian ini menggunakan metode purposive sampling karena sampel yang digunakan adalah anggota kepolisian murni dan tidak termasuk pegawai negeri sipil, penggunaan metode ini ini dimaksudkan agar sampel yang dipilih didasarkan pada ciri-ciri dari populasi yang telah ditentukan oleh peneliti dengan tujuan untuk mendapatkan informasi yang diperlukan oleh peneliti. Data dikumpulkan melalui kuisioner.Responden dalam penelitian ini berjumlah 102 orang.

b. Pengukuran Variabel
  •  Organizational citizenship behavior (OCB) didefinisikan sebagai tindakan sukarela untuk memajukan organisasi, dan bersedia membantu karyawan lain yang berada dalam masalah pekerjaan untuk dapat memahami tugas, tanggung jawab dan wewenangnya dalam rganisasi. Organizational citizenship behavior (OCB) diukur dengan instrumen yang dikembangkan oleh Podsakoff et al., 1990; Podsakoff & Mackenzie, (1994; dalam Khalid % Ali, 2005) yang terdiri dari 16 item pertanyaan. Pilihan jawaban menggunakan skala Likert yang menunjukan 1= sangat tidak setuju sampai 5= sangat setuju. Instrumen ini pernah digunakan dalam penelitian Todd (2003).
  •  Keinginan keluar merupakan keinginan individu untuk meninggalkan organisasi dan mencari alternatif pekerjaan lain. Keinginan keluar mengacu pada hubungannya dengan organisasi dan belum diwujudkan dalam tindakan pasti meninggalkan organisasi. Keinginan keluar diukur dengan instrumen yang dikembangkan oleh Chen et al., (1998; dalam Khalid & Ali, 2005) yang terdiri dari 3 item pertanyaan. Pilihan jawaban menggunakan skala Likert yang menunjukan 1= sangat tidak setuju sampai 5= sangat setuju. Instrumen ini pernah digunakan Khalid & Ali, 2005.
  •  Kepuasan kerja adalah orientasi emosional seorang karyawan untuk menjalankan peran dan karakteristik pekerjaan mereka (Porter et al., 1974; dalam Setiawan, 2006). Kepuasan kerja diukur dengan instrumen yang dikembangkan oleh Porter et al., (1974; dalam Setiawan, 2006) yang terdiri dari 14 item pertanyaan. Pilihan jawaban menggunakan skala Likert yang menunjukan 1= sangat tidak setuju sampai 5= sangat setuju. Instrumen ini pernah digunakan Setiawan, 2006.
3. Hasil Dan Pembahasan 

a. Data Demografi
Frekuensi dan persentase responden menurut status pernikahan, jenis kelamin, tingkat pendidikan, gaji per bulan, tingkat pekerjaan.

b. Hasil Uji Validitas dan Uji Reliabilitas
Hasil analisis faktor dari variabel OCB menyatakan 7 item tidak valid. Untuk variabel keinginan keluar terdapat 1 item tidak valid dan untuk variabel kepuasan kerja terdapat 5 item yang tidak valid. Dengan demikian dari 33 item, hanya 16 item yang dinyatakan valid. Hasil uji reliabilitas untuk variabel OCB menunjukkan Cronbach’s Alpha (α= 0.558), untuk variabel keinginan keluar menunjukkan Cronbach’s Alpha (α = 0.909), sedangkan untuk variabel kepuasan kerja menunjukkan Cronbach’s Alpha (α= 0.638)

c. Hasil Uji Hipotesis
    Alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan metode Regresi Linear Sederhana. Regresi Linear Sederhana menjelaskan tentang pengaruh variabel independen yaitu OCB terhadap variabel dependen yaitu keingian keluar dan kepuasan kerja. Turnover adalah perpindahan permanen, secara sukarela maupun tidak sukarela, oleh karyawan terhadap organisasi (Koslowsky et al, 1997; dalam Khalid & Ali, 2005). Turnover sangat terlihat dalam hal pembiayaan yang tinggi dikeluarkan oleh beberapa organisasi dan secara potensial berpengaruh pada biaya hidup karyawan yang melakukan perilaku tersebut (turnover). Keinginan keluar lebih sulit diprediksi dibandingkan dengan actual turnover karena dipengaruhi oleh banyak faktor. Hasil analisis regresi linear menunjukkan bahwa OCB memiliki hubungan yang positif dan berpengaruh secara positif terhadap keinginan keluar. Hal tersebut mengindikasikan bahwa semakin tinggi karyawan merasakan OCB rentan sekali mempunyai hasrat untuk keluar dari organisasi. Hasil analisis regresi linearmenunjukkan bahwa adanya hubungan positif dan memiliki pengaruh yang signifikan antara OCB terhadap kepuasan kerja. Kepuasan kerja yang dapatdiperoleh dalam lingkungan kerja adalah rasa bangga, puas atas keberhasilan melaksanakan tugas sampai tuntas. Keberhasilan tersebut memberikan seseorang status sosial, penghormatan dan pengakuan dari lingkungan masyarakat . 

     Hasil penelitian ini adalah hipotesis 1 & 3 didukung, konsisten dengan penelitian yang dilakukan oleh Netemeyer et al; Brown & Leight (1996; dalam Douglas, 2002); Douglas (2002); Todd (2003). Hasil penelitiannya adalah adanya hubungan positif antara OCB terhadap kepuasan kerja dan memiliki pengaruh yang signifikan. Responden dalam penelitian Douglas (2002) adalah para supervisor. Penelitian ini konsisten dengan penelitian Doulas (2002) walaupun sampel yang dipakai berbeda. Dengan demikian karyawan dalam hal ini anggota kepolisian memiliki OCB yang tinggi terhadap organisasi maka akan meningkatkan kepuasan kerja karyawan tersebut.

Senin, 06 Oktober 2014

Berawal Dari berbisnis Cafe

Pada zaman sekarang berbagai macam bisnis ada seperti bisnis furniture,bisnis kuliner,bisnis pakaian,dan bahkan bisnis perumahan. Dalam kehidupan sekarang banyak kita jumpai setiap manusia pasti membutuhkan penghasilan yang memungkinkan,apabila ada modal yang besar penghasilan tersebut bisa dijadikan modal awal untuk berbisnis. Namun saya memiliki ide yang cukup menarik untuk membuka usaha "bisnis cafe dan dessert",mengapa saya tertarik dengan ide tersebut karena peluangnya cukup besar untuk menjalankan bisnis cafe tersebut, apalagi saat ini banyak tempat-tempat sederhana yang cukup nyaman untuk dijadikan sebuah cafe yang ruangannya cukup membuat kita berlama-lama mengunjunginya.
Tetapi menu apa yang menarik dan enak untuk saya buat ? biasanya ketika saya sedang dirumah, saya biasa membuat sebuah minuman blend oreo yang dipadukan dengan topping coklat kemudian ditaburi dengan keju cukup menarik memang, tapi jika hanya itu saja topingnya saya rasa hanya biasa-biasa aja. Saya mempunyai inspirasi jika minuman tersebut saya padukan dengan topping wipe cream,ice cream,kacang mete,dan potongan dark coklat. Selanjutnya saya ada rencana untuk tambahan menunya seperti ada berbagai macam dessert yang cocok untuk ngemil dengan teman/pacar pun. Menu dessertnya pun ada cronuts,double cake chocolate,pie apple,chesse cake,tidak juga itu saya mempunyai inspirasi adanya menu jajanan unik seperti kue cubit,martabak mini,dan jajanan pasar pun bisa. Namun apakah menu minuman dan dessert tadi cocok untuk dipadukan bersamaan ? tentu saja karena apabila saat sore hari sangatlah pas disaat kita sedang bersantai,mengerjakan tugas dan lain-lain. Tekstur minuman dan dessert yang saya buat cukup unik dan bisa diterima oleh masyarakat apabila sedang menikmatinya. Dalam menu itu pun tidak hanya blend oreo,tetapi  ada juga menu lainnya seperti kopi,capucinno,vanilla latte,teh,dan jus. 
Saya berencana cafe ini akan saya buka pada sore hari sekitar jam 4 sampai 12 malam. Cafe ini akan saya tempatkan disebuah toko yang sederhana namun bersih, didalamnya saya padukan dengan lukisan-lukisan artistik dengan alunan musik yang membuat pengunjung nyaman. Saat memulai usaha saya membutuhkan tiga karyawan yang akan membantu saya dalam melayani pembeli/pengunjung di cafe ini. Saya dan teman saya yang akan membuat perlengkapan untuk cafe ini. Bahan-bahannya pun mudah ditemui ditempat swalayan dan cukup lengkap. Untuk harga dalam menu semuanya saya belum memastikan , namun harga yang saya pasari akan sangat terjangkau dengan pembeli berkisar untuk minuman Rp 10.000 - 30.000 dan dessert 5.000 - 25.000.

Jumat, 26 September 2014

Tugas 1. Psikologi Manajemen

Tiara Iranasari 
3PA08
17512371

Profil Perusahaan Agung Podomoro Group (APG).

Agung Podomoro Group merupakan salah satu pengembang properti terbesar di Indonesia. proyek properti yang dijalani APG ialah seperti apartement,perumahan,dan super-blok. APG didirikan pada tahun 1969 oleh Anton Haliman, Pada saat itu proyek pertamanya ialah perumahan di kawasan simprug , Jakarta Selatan. Selain itu APG juga merupakan pelopor pembangunan perumahan mewah (real-estate) di sunter, Jakarta Utara. Dengan komitmen APG membangun perumahan dengan fasilitas yang lengkap dengan adanya rumah sakit,fasilitas sekolah,pusat rekreasi,tempat ibadah dan pasar. Sejak tahun 1986, perusahaan diambil oleh Trihatma Kusuma Haliman yang kemudian diambil alih lagi oleh PT Indofica Housing. 

Pada saat itu perusahaan mampu memperluas area pengembangan lebih dari 517 hektar yang dipakai sebagai pembangunan kawasan eksklusif di Jakarta Utara yang merupakan pembanguna real estate di Jakarta. Tahun 1997 saat krisis keuangan melanda di Indonesia, APG mampu melewati rintangan tersebut dengan pengambilan alihan perusahaan oleh manajemen seperti keputusan untuk membayar sebagian hutang APG pada awal 1997 ,mengesampingkan devaluasi mata uang,serta menetapkan kebijakan uang yang ketat. Adanya tantangan dan kesempatan yang baik dalam menghadapi krisis tahun 1997. APG menemukan potensi yang besar di pasar yakni  kebutuhan akan tempat tinggal ditengah kota. Lalu APG menjalankan beberapa tahapan diantaranya membeli lahan dari BPPN (Badan Penyehatan Perbankan Nasional). 

Trihatma Kusuma Haliman , Pemilik Grup Agung Podomoro yang mengelola 27 proyek properti berskala besar di Jakarta dan sekitarnya dengan total kopitalitas 15 triliun. Pengusaha yang sudah berbisnis perumahan kontruksi sejak 1970 ,ini dulu sering disebut sebagai Raja Apartement ,tetapi kini ia telah masuk pula ke bisnis pusat pemberlanjaan. 


Trihatma juga tengah menyelesaikan proyek Forum di seberang Plaza Senayan dan STC Senayan. Jika Forum selesai, proyek itu akan meramaikan persaingan antar-pusat perbelanjaan di Jakarta. Forum mengemban misi menjadi salah satu ikon baru pusat perbelanjaan Indonesia.Desainya,kabarnya, merupakan yang terdepan saat ini di Indonesia.

Juli 2005 Trihatma tampak berbinar ketika topping off Senayan City. Proyek ini akan memberi warna lain bagi perkembangan bisnis properti di Indonesia karena merupakan "buah perkawinan" dari pusat perbelanjaan modern berlantai delapan, pusat perkantoran, hotel, butik, dan apartemen mewah di kawasan Senayan.


Trihatma menyadari persaingan antar-pusat perbelanjaan makin keras. Namun, menurut dia, justru di situlah daya tariknya. Kata Trihatma, para pebisnis akan makin kreatif menghasilkan inovasi tatkala kompetisi makin ketat. Ia pun menyebut sejumlah tenant besar, termasuk dari beberapa negara ASEAN, yang sudah mem-booking tempat. Masuknya mereka ke Indonesia akan memberi warna tersendiri pada iklim bisnis pusat perbelanjaan modern. Menurut Trihatma, Jakarta—kota dengan penduduk 12 juta jiwa—masih membutuhkan banyak pusat perbelanjaan.

Terdapat beberapa penghargaan :


  • The Performing Property CEO dari Warta Ekonomi Awards 2013,
  • Most Admired Company 2013 dari Warta Ekonomi Awards 2013
  • Best Listed Companies dalam Investor Awards 2013
  • Property Man of The Year dalam
  • Indonesia Properti & Bank Awards 2012
  • Property Man of The Year dalam Indonesia Properti & Bank Awards 2012
  • Highly Commended Retail Development dalam International Property Awards 2012
  • Top Ten Developers dalam BCI Asia Awards 2012
  • Best Public Services dalam International Property Awards 2012
  • Indonesia's Most Awarded Companies dalam Corporate Image Awards 2012
  • Azko Nobel Award 2011
Analisi SWOT  :

  • Strenghth
     APL dikenal karena sukses menghadirkan produk properti yang sangat berkualitas di lokasi yang strategis, salah satunya adalah Central Park Mall yang memiliki lahan terbuka hijau, mall yang memiliki beragam jenis tanaman dan pohon-pohon yang rindang ditengahnya. Serta, Leadership yang kuat turut mengambil peran yang sangat besar dalam kemajuan perusahaan properti ini, ketika Indonesia mengalami krisis, APL terus maju dan membangun proyek-proyeknya, keberanian melawan arus dan visi yang jauh ke depan adalah kata kunci yang tepat untuk menggambarkan kekuatan perusahaan ini.

  •  Weakness
    Harga yang cukup mahal membuat tidak semua kalangan mampu memiliki hunian atau apartment milik dari Agung Podomoro Land, mereka hanya menjangkau kalangan menengah keatas. Serta, pembangunan yang terus menerus dilakukan membuat sedikit kemacetan di sekitar pembangunan hingga membuang waktu.

  • Opportunity
    APL berkerja sama dengan perusahaan properti Internasional agar memberikan kenyaman pada hunian atau pun mall miliknya.

  • Threats
    Kurangnya komunikasi dengan warga membuat PT. APLN ini langsung membuat keputusan untuk membebaskan lahan milik warga yang di klaim miliknya, seperti yang diberitakan pada tahun 2011 PT. APLN dan PT Sumber Air Mas Pratama mengklaim tanah milik warga Karawang, hingga warga melakukan upaya untuk mencari keadilan atas hak kepemilikan tanah yang secara turun temurun.


Daftar Pustaka : 
http://profil.merdeka.com/indonesia/a/agung-podomoro-group/
http://www.tokohindonesia.com/biografi/article/286-direktori/2049-pemilik-grup-agung-podomoro

Jumat, 23 Mei 2014

TUGAS KESMEN - 3

Nama : Tiara Iranasari
Kelas : 2PA08
NPM : 17512371

PENYESUAIAN DIRI 

Konsep Penyesuaian Diri
Makna akhir dari hasil pendidikan seseorang individu terletak pada sejauh mana hal yang telah dipelajari dapat membantunya dalam penyesuaian diri dengan kebutuhan-kebutuhan hidupnya dan pada tuntutan masyarakat. Seseorang tidak dilahirkan dalam keadaan telah mampu menyesuaikan diri atau tidak mampu menyesuaikan diri, kondisi fisik, mental, dan emosional dipengaruhi dan diarahkan oleh faktor-faktor lingkungan dimana kemungkinan akan berkembang proses penyesuaian yang baik atau yang salah. Penyesuaian yang sempurna dapat terjadi jika manusia / individu selalu dalam keadaan seimbang antara dirinya dengan lingkungannya, tidak ada lagi kebutuhan yang tidak terpenuhi, dan semua fungsi-fungsi organisme / individu berjalan normal. Namun, penyesuaian diri lebih bersifat suatu proses sepanjang hayat, dan manusia terus menerus menemukan dan mengatasi tekanan dan tantangan hidup guna mencapai pribadi sehat. Penyesuaian diri adalah suatu proses. Kepribadian yang sehat ialah memiliki kemampuan untuk mengadakan penyesuaian diri secara harmonis, baik terhadap diri sendiri maupun terhadap lingkungannya.

Pengertian Penyesuaian Diri
 
Apakah Penyesuaian diri itu? 
Penyesuaian diri merupakan suatu proses dinamis yang bertujuan untuk mengubah perilaku individu agar terjadi hubungan yang lebih sesuai antara diri individu dengan lingkungannya. Atas dasar pengertian tersebut  dapat diberikan batasan bahwa kemampuan manusia sanggup untuk membuat hubungan-hubungan yang menyenangkan antara manusia dengan lingkungannya.

Dalam kehidupan sehari-hari, Penyesuaian diri merupakan salah satu persyaratan penting bagi terciptanya kesehatan jiwa/mental individu. Banyak individu  yang menderita dan tidak mampu mencapai kebahagiaan dalam hidupnya, karena ketidak-mampuannya dalam menyesuaikan diri, baik dengan kehidupan keluarga, sekolah, pekerjaan dan dalam masyarakat pada umumnya. Tidak jarang pula ditemui bahwa orang-orang mengalami stres dan depresi disebabkan oleh kegagalan mereka untuk melakukan penyesaian diri dengan kondisi yang penuh tekanan.

Penyesuaian dapat diartikan atau dideskripsikan sebagai berikut : 
  1. Penyesuaian berarti adaptasi; dapat mempertahankan eksistensinya, atau bisa  survive dan memperoleh kesejahteraan jasmaniah dan rohaniah, dan dapat mengadakan relasi yang memuaskan dengan tuntutan sosial.
  2. Penyesuaian dapat juga diartikan sebagai konformitas, yang berarti menyesuaikan sesuatu dengan standar atau prinsip.
  3. Penyesuaian dapat diartikan sebagai penguasaan, yaitu memiliki kemampuan untuk membuat rencana dan mengorganisasi respon – respon sedemikian rupa, sehingga bisa mengatasi segala macam konflik, kesulitan dan frustasi-frustasi secara efisien. Individu memiliki kemampuan menghadapi realitas hidup dengan cara yang adekkuatt/ memnuhi syarat.
  4. Penyesuaian dapat diartikan penguasaan dan kematangan emosional. Kematangan emosional maksudnya ialah secara positifmemiliki respon emosional yang tepat pada setiap situasi.
Jadi dapat disimpulkan bahwa, penyesuaian diri adalah usaha manusia untuk mencapai keharmonisan pada diri sendiri dan pada lingkungan.
Berdasarkan beberapa definisi yang telah dipaparkan, dapat disimpulkan bahwa penyesuaian diri merupakan suatu proses dinamis yang bertujuan untuk mengubah perilaku individu agar terjadi hubungan yang lebih  sesuai antara diri individu dengan lingkungannya.
Scheneiders (1964: 51) mengemukakan beberapa kriteria penyesuaian yang tergolong baik (well adjusment) ditandai dengan:
  1. pengetahuan dan tilikan terhadap diri sendiri,
  2. obyektivitas diri dan penerimaan diri,
  3. pengendalian diri dan perkembangan diri,
  4. keutuhan pribadi,
  5. tujuan dan arah yang jelas,
  6. perspektif, skala nilai dan filsafat hidup memadai,
  7. rasa humor,
  8. rasa tanggung jawab,
  9. kematangan respon,
  10. perkembangan kebiasaan yang baik,
  11. adaptabilitas,
  12. bebas dari respon-respon yang simptomatis (gejala gangguan mental),
  13. kecakapan bekerja sama dan menaruh minat kepada orang lain,
  14. memiliki minat yang besar dalam bekerja dan bermain,
  15. kepuasan dalam bekerja dan bermain, dan
  16. orientasi yang menandai terhadap realitas.
Schneiders (1964: 51) mengungkapkan bahwa individu yang memiliki penyesuaian diri yang baik (well adjustment person) adalah mereka dengan segala keterbatasannya, kemampuannya serta kepribadiannya telah belajar untuk bereaksi terhadap diri sendiri dan lingkungannya dengan cara efisien, matang, bermanfaat, dan memuaskan. Efisien artinya bahwa apa yang dilakukan individu tersebut dapat memberikan hasil yang sesuai dengan yang diinginkan tanpa banyak mengeluarkan energi, tidak membuang waktu banyak, dan sedikit melakukan kesalahan. Matang artinya bahwa individu tersebut dapat memulai dengan melihat dan menilai situasi dengan kritis sebelum bereaksi. Bermanfaat artinya bahwa apa yang dilakukan individu tersebut bertujuan untuk kemanusiaan, berguna dalam lingkungan sosial, dan yang berhubungan dengan Tuhan. Selanjutnya, memuaskan artinya bahwa apa yang dilakukan individu tersebut dapat menimbulkan perasaan puas pada dirinya dan membawa dampak yang baik pada dirinya dalam bereaksi selanjutnya. Mereka juga dapat menyelesaikan konflik-konflik mental, frustasi dan kesulitan-kesulitan dalam diri maupun kesulitan yang berhubungan dengan lingkungan sosialnya serta tidak menunjukkan perilaku yang memperlihatkan gejala menyimpang.
Selain itu, Schneiders (1964: 52) mengemukakan penyesuaian diri bersifat relatif, hal tersebut dikarenakan beberapa hal berikut:
  • Penyesuaian diri merupakan kemampuan individu untuk mengubah atau memenuhi banyaknya tuntutan yang ada pada dirinya. Kemampuan ini dapat berbeda-beda pada masing-masing individu sesuai dengan kepribadian dan tahap perkembangannya.
  • Kualitas penyesuaian diri yang dapat berubah-ubah sesuai dengan situasi masyarakat dan kebudayaan tempat penyesuaian diri dilakukan.
  • Adanya perbedaan dari masing-masing individu karena pada dasarnya setiap individu memiliki saat-saat yang baik dan buruk dalam melakukan penyesuaian diri, tidak terkecuali bagi individu yang memiliki penyesuaian diri yang baik (well adjustment) karena terkadang ia pun dapat mengalami situasi yang tidak dapat dihadapi atau diselesaikannya.

2.  Variasi Penyesuaian Diri
Schneiders (1964: 429) mengungkapkan setiap individu memiliki pola penyesuaian yang khas terhadap setiap situasi dan kondisi serta lingkungan yang dihadapinya. Bagaimana individu menyesuaikan diri di lingkungan rumah dan keluarganya, di sekolahnya, bagaimana individu dapat menyesuaikan diri dengan dirinya sendiri, serta cara menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial menentukan adanya variasi penyesuaian diri (Varietas of Adjustment), artinya adanya klasifikasi penyesuaian diri yang berdasarkan pada masalah dan situasi yang dihadapi dan berkaitan dengan tuntutan lingkungan. Empat variasi penyesuaian diri yang lebih penting dan krusial dalam kehidupan seorang manusia yaitu:
  • Penyesuaian dengan dirinya sendiri (Personal Adjustment)
  • Penyesuaian sosial (Social Adjustment)
  • Penyesuaian diri dengan pernikahan (Marital Adjustment)
  • Penyesuaian diri dengan pekerjaan (Vocational Adjustment).
B.    PERTUMBUHAN PERSONAL
Banyak kualitas penyesuaian diri yang baik mengandung implikasi-implikasi yang khas bagi pertumbuhan pribadi. Ide ini terkandung dalam kriteria perkembangan diri yang berarti pertumbuhan kepribadian yang terus-menerus kearah tujuan kematangan dan prestasi pribadi. Setiap langkah dalam proses pertumbuhan dari masa bayi sampai masa dewasa harus menjadi kemajuan tertentu kearah kematangan tang lebih besar dalam pikiran, emosi, sikap dan tingkah laku. Pelekatan (fiksasi) pada setiap tingkat perkembangan bertentangan dengan  penyesuaian diri yang adekuat, misalnya menggigit kuku, menghisap jempol, ngompol, ledakan amarah, atau membutuhkan sangat banyak kasih sayang dan perhatian. Perkembangan diri disebabkan oleh realisasi kematangan yang terjadi secara tahap demi tahap.
                Pertumbuhan kepribadian ditingkatkan oleh banyaknya minat  terhadap pekerjaan dan kegemaran. Sulit menyesuaikan diri dengan baik terhadap tuntutan-tuntutan pekerjaan yang tidak menarik dan membosankan, dan segera pekerjaan itu menjadi hal yang tidak menyenangkan atau menjijikkan. Tetpi, kita memiliki cara tertentu untuk mengubah dan mengganti pekerjaan yang merangsang minat kita sehingga kita dapat memperoleh kepuasan terus-menerus dalam pekerjaan.
                Pertumbuhan pribadi tergantung juga pada skala nilai yang adekuat dan tujuan yang ditetapkan dengan baik, kriteria yang selalu dapat digunakan seseorang untuk menilai penyesuaian diri. Skala nilai atau filsafat hidup adalah seperangkat ide, kebenaran, keyakinan, dan prinsip membimbing seseorang dalam berpikir, bersikap, dan dalam berhubungan dengan diri sendiri dan orang lain dalam memandang kenyataan dan dalam tingkah laku sosial, moral dan agama. Seperangkat nilai inilah yang akan menentukan apakah kenyataan itu besifat mengancam, bermusuhan, sangat kuat, atau tidak patut menyesuaikan diri dengannya. Penyesuaian diri memerlukan penanganan yang efektif terhadap masalah dan stress yang terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari, dan pemecahan masalah dan stress itu akan ditentukan oleh nilai-nilai yang kita bawa berkenaan dengan situasi itu. kita seringkali mendengar orang-orang menjadi berantakan dan dengan demikian mendapat gangguan emosi dan tidak bahagia. Orang-orang tersebut tidak yakin mengenai hal yang baik atau buruk, benar atau salahh, bernilai atau tidak bernilai. Mereka tidak memiliki pengetahuan, nilai, atau prinsip yang akan menyanggupi mereka untuk mereduksikan kebimbangan atau konflik yang secara emosional sangat mengganggu.
                Dalam proses pematangan, perkembangan situasi sistem nilai akan meliputi juga tujuan jangka pendek dan jangka panjang yang menjadi inti dari integrasi dan tingkah laku menyesuaikan diri. orang yang memiliki tujuan-tujuan yang ditetapkan dengan baik bertindak secara terarah dan bertujuan, meskipun terkadang terganggu oleh kehilangan arah, kebosanan, kekurangan minat dan dorongan. Dalam salah satu penelitian mengenai pengaruh-pengaruh dari tercapainya tujuan di kalangan para mahasiswa, telah ditemukan bahwa arah tujuan ada hubunganya dengan peningkatan keyakinan, perbaikan harga nilai, dan pembaruan usaha. Pengaruh umum dari tercapainya tujuan adalah tegangan direduksikan.
                Kriteria terakhir untuk menilai penyesuaian diri adalahh sikap terhadap kenyataan. Penyesuaian diri yang baik memerlukan sikap yang sehat dan realistic yang menyanggupi seseorang untuk menerima kenyataan sebagaimana adanya bukan sebagaimana diharapkan atau diinginkan. Kriteria ini dipakai pada segi-segi kenyataan dalam waktu dan ruang. Ada orang yang hidup dalam dunia mimpi tentang peristiwa masa lampau yang sangat menghargai kenangan-kenangan pada masa kanak-kanak, dan baginya masa sekarang adalah suatu kenyataan yang jelek, dan masa yang akan datang merupakan sesuatu yang menakutkan.
                Adolph Meyer berpendapat bahwa kapasitas untuk menggunakan masa lampau dan bukan semata-mata menderita karenanya adalah perlu untuk penyesuaian diri bahwa penangan harus dipakai untuk menangani kenyataan sekarang dan kesempatan yang kreatif dapat direalisasikan dengan tinjauan yang sehat ke masa depan. Sikap yang sehat terhadap masa lampau, masa sekarang dan masa depan sangat penting untuuk penyesuaian diri yang sehat.

Factor yang mempengaruhi pertumbuhan personal ;
1.      Faktor biologis
Karakteristik anggota tubuh yang berbeda setiap orang, kepribadian, atau warisan biologis yang sangat kental.
2.      Faktor geografis
Faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi kepribadian seseorangdan nantinya akan menentukan baik atau tidaknya pertumbuhan personal seseorang.
3.      Faktor budaya
Tidak di pungkiri kebudayaan juga berpengaruh penting dalam kepribadian seseorang, tetapi bukan berarti setiap orang dengan kebudayaan yang sama memiliki kepribadian yang sama juga.
Selain itu, ada satu hal yang tidak kalah penting berkaitan dengan penyesuaian diri dan pertumbuhan personal adalah komunikasi. Dengan kemampuan komunikasi yang baik maka penyesuaian diri dan pertumbuhan personal seseorang juga akan berjalan baik.

Kesimpulan:
Penyesuaian diri (adjustment) merupakan suatu istilah yang sangat sulit didefinisikan karena (1) penyesuaian diri mengandung banyak arti, (2) criteria untuk menilai penyesuaian diri tidak dapat dirumuskan secara jelas, dan (3) penyesuaian diri (adjustment) dan lawannya ketidakmampuan menyesuaikan diri (maladjustment) memiliki batas yang sama sehingga akan mengaburkan perbedaan diantara keduanya. Sedangkan,  pertumbuhan kepribadian ditingkatkan oleh banyaknya minat  terhadap pekerjaan dan kegemaran.

DAFTAR PUSTAKA :

Semium, yustinus.2006.kesehatan mental 1.kanisius:Jakarta
hristensen.j.paula.2009.proses keperawatan.buku kedokteran EGC : Jakarta
http://belajarpsikologi.com/pengertian-penyesuaian-diri/
Chaplin,J.P. (a.b. Kartini Kartono). (2001).  Kamus Lengkap Psikologi. Jakarta: Rajawali Pers.
Schneiders, A. (1964). Personal Adjustment and Mental Health. New York: Rinehart & Winston.